Jumat, 15 Juli 2011

Teknik Pengumpulan Data

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
            Dalam setiap akhir dari menjalankan perkuliahan, setiap kita dituntut untuk mampu membuat skrtipsi sebagai tugas akhir dalam memperoleh gelar sarjana. Dalam pembuatan skripsi tersebut, terlebih dahulu kita melakukan berbagai macam penelitian untuk mencari informasi tentang masalah yang akan dibahas dalam skripsi yang akan kita buat.
Dalam melakukan penelitian, banyak metode-metode yang dapat dilakukan, seperti metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif dan metode R & D.
Dalam makalah ini, penulois akan membahas tentang metode penelitian kualitatif mengenai Teknik Pengumpulan Data yang akan penulis terangkan di Bab II.
  1. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan mengenai Teknik Pengumpulan Data dalam Metode Penelitian Kualitatif.

BAB II
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuuensioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.
A.    Interview (Wawancara)
Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.
Sutrisno hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu di pegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuensioner angket adalah sebagai berikut
1.      Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2.      Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3.      Bahawa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang di maksud oleh peniliti
Wawancara dapat dilakukan dengan cara terstruktur maupun tidak terstruktur, dn dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon.
1.      Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, peneliti atau pengumpul data telah megetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpulan data telah menyiapkan instrukmen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang akan alternative jawabannya pun telah disiapkan.
            Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrukmen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpulan data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan  wawancara menjadi lancar.
2.      Wawancara Tidak Terstruktur
Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalaan yang akan ditanyakan.
Dalam wawancra tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secrara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden. Dalam melakukan wawancara peneliti dapay menggunakan cara “berputar-putar baru menukik” artinya pada awal wawancara, yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan, dan bila sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.
Informasi atau data yang diperoleh dari wawancara yang sering di bias. Bias adalah menyimpang dari yang seharusnya, sehinga dapat dinyatakan data tersebut subyetif atau tidak akurat. Oleh karena itu peneliti jangan memberikan pertanyaan yang bias.selanjutnya situasi dan kondisi seperti yang dikemukakan  di atas, sangat mempengaruhi proses wawancara, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi validitas data.
B.     Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau petanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yang akan di ukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner dapat berupa pertanyaaan-pertanyaan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet.
            Bila penelitian dilakukan pada lingkup yang tidak terlalu luas, sehingga kuesioner dapat diantarkan langsung dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada responden tidak perlu melalui pos. dengan adanya kontak langsung antara peneliti dengan responden akan menciptakan suatu kondisi yang cukup baik, sehingga responden dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
            Uma Sekaran mengemukakan  beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.




1.      Prinsip Penulisan Angket
a.       Isi dan tujuan Pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variebel yang di teliti.
b.      Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuiakan dengan kemampuan berbahasa responden.
c.       Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, (kalau dalam wawancara: terstruktur dan tidak terstruktur) dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negative.
Petanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya bebrbentuk uraian tentang sesuatu hal.
Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat, dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh angket yang telah terkumpul.
d.      Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
e.       Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrument angket, sebaiknya juga tidak menanyakan  hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat.
f.       Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja.
g.      Panjang Pertanyaaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidk terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi.
h.      Urutan Pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, di mulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit atau di acak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberikan pertanyaan yang sulit atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket yang telah mereka terima.
i.        Prinsip Pertanyaan
Angket yang diberikan kepada responden adalah instrument penelitian, yang digunakan untuk mengukur variable yang akan diteliti. Oleh karena itu, instrument angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliable tentang variable yang diukur.
j.        Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi repos atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat kertas buram akan mendapa respon yang kurang menarik bagi responden, bila dibanding angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Tetapi angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal

C.    Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain.
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, obesrvasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik mengumpulkan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

1.      Observasi berperan serta (Participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegitan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melalukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap dari perilaku yang tampak.
2.      Observasi nonpartisipan
Kalau dalam observasi nonpartisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
a.       Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variable apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti menggunakan instrument penelitian yang telah teruji validitas dan realiabilitasnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk melakukan observasi.
b.      Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrument yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuuensioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.
Sutrisno hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu di pegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuensioner angket adalah sebagai berikut
1.      Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2.      Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3.      Bahawa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang di maksud oleh peniliti

DAFTAR PUSTAKA

Sugioyo. 2006. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung. Alfabet

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar